jam

Selasa, 03 September 2013

KangAtepAfia.com : Ekosistem Global Makin Amburadul

KangAtepAfia.com : Ekosistem Global Makin Amburadul:
 Ekosistem Global Makin Amburadul
Oleh : Atep Afia Hidayat - Manusia atau mahluk hidup apapun senantiasa membutuhkan lingkungan, baik fisik atau biologis. Manusia sebagai aktor utama dalam ekosistem global, ternyata bersikap kontra-produktif terhadap ekosistemnya. Hampir setiap orang berperan dalam pengrusakan ekosistem. Cara berpikir, kebiasaan, sikap dan karakter sebagian besar manusia belum bersahabat dengan ekosistem. Setiap saat hampir setiap orang cenderung “mencederai” atau “membuat luka” ekosistem. 

Terjadi akselerasi kerusakan ekosistem yang begitu hebat. Memang ada upaya untuk menghambat kerusakan yang kian parah, namun kebanyakan upaya masih bersifat seremonial, masih cenderung lips-service. Di sisi lainnya mereka yang memproklamirkan diri sebagai “pencinta lingkungan” atau sekedar “pemerhati lingkungan”, jauh lebih sedikit dibanding “perusak lingkungan” dan “penghancur lingkungan”. Ternyata cara berpikir sebagian orang tentang ekosistem masih keliru, sebagai contoh ketika dihadapkan pada sampah plastik dalam ukuran sekecil apapun, kebanyakan orang seolah tanpa beban membuangnya ke tanah.
Secuil plastik, bahkan seukuran bungkus permen, atau yang lebih kecil lagi, kalau dibuang ke permukaan tanah tentu sangat mengganggu. Tanah adalah bagian dari ekosistem, peranannya dalam mendukung kehidupan manusia begitu vital. Tanah bukan sekedar tempat menanam bahan pangan, sandang atau papan, tanah juga merupakan tempat menympan air. Melalui pori-pori tanah air hujan meresap tersimpan sebagai air tanah. Nah, dengan tertutupnya permukaan tanah oleh bungkus permen, plastik lain atau bahan kedap air lainnya, maka aliran air menjadi terhambat. Bayangkan kalau plastik itu begitu banyak, termasuk kantong keresek, bekas peralatan rumah tangga, dan sebagainya. Permukaan tanah itupun terus-menerus diselimuti aspal dan beton, sehingga permukaan terbuka semakin berkurangluasnya.
Sebagai dampak dari ketidakselarasan siklus air, maka terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan yang berat pada musim kemarau. Saat musim hujan air yang datang dilewatkan begitu saja, tidak ada upaya untuk ditabung di dalam tanah atau di tempat-tempat penampungan tertentu seperti embung, waduk dan danau. Saat musim kemarau, cadangan air di atas dan di permukaan tanah itu sudah tidak ada lagi, sehingga berdampak terhadap penurunan produksi pertanian, penurunan kualitas sanitasi, sehingga bencana kelaparan dan penyakit menularpun mewabah.
Dengan berbagai semboyannya banyak kelompok masyarakat yang mencoba “menyelamatkan bumi”. Padahal intinya bukan bumi yang harus diselamatkan, justru kehidupan umat manusia itulah yang harus diselamatkan. Bagaimanapun bumi hanya sekedar ekosistem, erannya sebagai habitat manusia dan mahluk lainnya. Dengan demikian, manusialah yang berkepentingan terhadap bumi, mungkin bumi sama sekali tidak berkepentingan dengan manusia. Bahkan kalau bumi bisa berbicara, sepertinya bumi telah muak dengan perilaku manusia, yang sangat membutuhkan bumi tetapi mensia-siakan, mencampakan bahkan merusaknya secara perlahan-lahan. (Atep Afia)


Komentar:
Terbukti bahwa perbandingan pecinta lingkungan lebih sedikit daripada perusak lingkungan. Padahal manusia sudah dipercaya menjadi khalifa di bumi. Apa kita rela, jika hutan di Indonesia dalam kurun beberapa tahun ini hanya menyisakan sebuah legenda? Lalu, bencana silih berganti melanda? Tentu tidak kan? Oleh karena itu, kalau bukan kita yang menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, lalu siapa lagi (?)

KangAtepAfia.com : Stop Pemborosan Sumberdaya Alam !

KangAtepAfia.com : Stop Pemborosan Sumberdaya Alam !:
 Stop Pemborosan Sumberdaya Alam !

Oleh : Atep Afia Hidayat - Berkat kemajuan industrialisasi yang ditopang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tuntutan akan kemakmuran materi pun semakin meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan berbagai implikasi terhadap sumberdaya alam atau kualitas lingkungan. Umpamanya, dengan makin meningkatnya frekuensi dan volume pembakaran minyak, gas bumi dan batubara untuk keperluan industri dan kendaraan bermotor, maka bisa menyebabkan peningkatan kadar polutan di atmosfir, bahkan bisa berakibat pada peningkatan suhu rata-rata bumi (global warming).

Selain itu gas-gas SOx dan NOx yang terlepas ke atmosfer dengan konsentrasi yang tinggi bisa menyebabkan terjadinya hujan asam yang sifatnya merusak, seperti menimbulkan kehancuran vegetasi, mematikan hewan akuatik di sungai-sungai, serta menghancurkan bahan bangunan yang tidak tahan asam.

Konsentrasi pencemaran yang tinggi bisa menyebabkan berbagai penyakit pada manusia seperti gangguan pernafasan dan kulit. Peningkatan kadar gas CO2, NO2, CFC, metan dan ozon di permukaan bumi dan atmosfer bagian bawah bisa menyebabkan efek rumah kaca (green house effect) dan penipisan lapisan ozon diberbagai tempat. Itulah kenyataannya, pemborosan sumberdaya alam yang disebabkan oleh industrialisasi masal akan menyebabkan ketidak seimbangan ekosistem di berbagai belahan bumi.

Di negara-negara sedang berkembang dan negara miskin yang ditandai dengan tingkat ketergantungan terhadap produk primer yang masih tinggi, pemborosan sumberdaya alam bisa berupa penebangan hutan yang berlebihan, penambangan liar atau formal yang tidak peduli aspek lingkungan,   penyerobotan lahan untuk usaha tani dan pemburuan satwa langka secara illegal. Akibat pemborosan masal yang dilakukan selama ini sudah beribu-ribu spesies satwa dan vegetasi mengalami kepunahan.

Sebenarnya daya dukung sumberdaya alam (SDA) untuk menyokong kehidupan manusia itu ada batasnya, ternyata dengan makin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan beberapa kecenderungan, seperti eksploitasi SDA yang terus meningkat dan produksi limbah (padat, cair, gas) yang terus bertambah.

Dengan adanya beban yang semakin berat, kemampuan SDA untuk pulih makin menurun, bahkan bisa saja musnah. Umpamanya, dalam kadar pelimbahan yang relatif rendah, ekosistem sungai mampu mentolelirnya, yaitu melalui berbagai aktivitas kimia, fisika dan mikrobiologi. Sedangkan jika kadar perlimbahan tersebut sudah melampaui ambang batas maka ekosistem sungai pun akan mengalami kerusakan.

Pemborosan SDA yang terjadi diseluruh permukaan bumi sudah semestinya memperoleh perhatiankan secara serius, yakni melalui penanganan global. Persoalan ini bukan saja diemban oleh kelompok negara-negara tertentu atau penduduk wilayah tertentu, namun sudah menjadi persoalan global. Umpamanya dengan makin meningkatnya suhu bumi akibat efek rumah kaca, dikhawatirkan akan menyebabkan makin tingginya permukaan laut, sudah selayaknya perhatian terhadap hal tersebut lebih ditingkatkan lagi, bagaimanapun dampaknya akan terasa secara global.

Pemborosan SAD secara masal, ternyata menyebabkan kerusakan lingkungan global. Dengan demikian, penanganan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan oleh pengeksplotasian SDA yang berlebihan, harus dilakukan sedini mungkin. Namun tentu saja melalui langkah-langkah yang terarah dan bijaksana. Penanganan bukan berarti menghentikan secara total eksploitasi SDA.

Upaya tersebut sah saja, asalkan tetap memperhatikan keseimbangan, kapasitas, daya dukung dan daya lentingnya. Di Indonesia ada berbagai ketentuan mengenai sumberdaya alam dan lingkungan hidup seperti Undang-undang (UU) No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Konservasi Sumberdaya Alam, Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), Amril (Analisis Manfaat dan Risiko Lingkungan), dan berbagai ketentuan khusus seperti untuk penebangan hutan, penggalian bahan tambang dan perburuan, sudah semestinya dipatuhi dan dilaksanakan dengan seksama. Oleh sebab itu stop pemborosan SDA. (Atep Afia).
 
Komentar:
perbandingan terbalik antara Sumber Daya Alam dengan Sumber Daya Manusianya. Manusianya semakin banyak, tetapi sumber daya alamnya segitu gitu saja, bahkan kurang. Memang perlu ada tindakan penanganan yang bukan berarti menghentikan secara total eksploitasi SDA. seperti untuk penebangan hutan, penggalian bahan tambang dan perburuan, sudah semestinya dipatuhi dan dilaksanakan dengan seksama dan sedini mungkin. Kalau tidak dari sekarang, lalu kapan lagi?